 |
*istockphoto.com
|
Penghujung jalan telah menapaki babak demi babak tersisihkan dari masa ke masa, kehidupan ini tidaklah akan sama dalam menyemai benih, kemungkinan panen yang di dapat tidaklah ditangkup sesuai sangkaan. Namun dalam melihat kondisi hidup seperti paradok yang membutuhkan anti klimaks dan antitetis makna dalam menjalani kehidupan sosial dan drama lakon sandiwara, seperti pewayang yang dimainkan apik oleh sang Dalang. Sudut pandang melihat satu situasi layaknya kacamata yang dapat dikenakan dengan mengkondisikan mana yang lebih nyaman ketika dikenakan. Karena melihat sesuatu dari sudut pandang satu sama lain adalah nisbi di setiap jangkauan.
Mungkin pemikiran dunia hanya sebatas merengkuh asa dalam meraih asmaraloka. Lalu bagaimana bagian nirwana yang kau hirup hingga menggema memasuki sukma?! . Niscaya goncangannya telah menyapa dirgantara. Menggetarkan seluruh bumantara yang menggaungkan renyut di gelombang magnet dimensi yang berbeda.

|
| *pixabay.com |
Dialog kontimplasi merefleksikan eunoia yang mampu melihat diri di hadapan cermin. Sekelebat karsa dan litani telah menepis pesimisme yang akan menghalau dari rivalitas bayang semu negaholic. Terbayang dalam menyentuh wajah dan kelunya batin. Secercah senyum manis menghiasi bahwa nayanika memenuhi kalam bestari.
Sekatan dalam menuang ide dan keabsurdan mampu mengikis bentara singgasana Ilahi. Yang mungkin menjadi keabsahan dalam melakukan aksi di realita kehidupan terkini. Berbicara adalah hal yang termudah untuk dilakukan, namun akan menjadi hal yang tersulit, manakala keadaan mengharuskan untuk melakukan satu langkah kongkrit yang didasari keinginan menjadi terdepan dan melakukan suatu perubahan serta penanggulangan.
 |
| *pixabay.com |
Ejawantah atma adalah sebuah pencapaian derana yang mampu memukau seluruh alam semesta. Energi kordial yang begitu kuat menyinari dengan paradigma yang membuat kilauan tajam. Penjamahan akan mampu merekatkan kirana sebuah karsa. Jumantara menyambut dengan gegap gempita. Seharsa telah berlalu mengalungkan identitas sebuah elegi yang menguntai ke dalam kalbu.
Arunika menanti di sepanjang hari nan indah, kemelut jiwa telah sirna, memadu kasih dalam mencari riak dan dersik di hutan. Akankah nayanika memancarkan memoar konseptual dalam memandang imajiner yang mampu mengalihkan kemilau durjana.
 |
| *pixabay.com |
Jalan menuju kedepan sungguh tidak terduga, bagai paradok yang tidak bertepi. Pijakan penting dari menjelajahi sebuah perjalanan panjang yang tidak mudah, ketika ugem bersayam dalam kalbu. Secarik kertas menuntaskan padanan wiyata. Bahwasanya indra tidak akan berdusta, ketika terpukau oleh pancarona.
Namun tidak ada yang mampu menghindari gempuran, hanya karena khawatir dan takut, sehingga meluputkan sebuah situasi. Ini merupakan bagian tindakan yang tidak bertanggung jawab.
Sang Khalik selalu menebarkan aksama. Akan ada masa memetik harsa hingga kelak keriangan bersemayam di sukma.
 |
| *pixabay.com |
Sang Pemilik Hati sedang menyaksikan apakah makhluk ciptaanNya mampu mendekap afeksi yang menengarai. Ketulusan dalam berdamai dengan jiwa, serta keadaan yang mampu memaknai wiyata.
Percayalah bahwa waktu tidak selalu memperlihatkan dengan mengawali masa arunik, dan berakhir dengan lembayung. Namun asa yang mampu menembus batas nayanika. Wiyata berpendar hanya untuk melihat geliat risak . Akankah sandyakala menemukan niskala yang mampu mengasah hingga meraki mereflesikan sosok syahda.
Lika liku hidup berpendar melalui arah lintas batas tanpa dapat disapa, sedang semenjana mengambil alih untuk membancuh sebuah proses puspas yang tidak mudah menemukan jalan menuju rumah, nuraga mati oleh situasi. Yang tersisa hanya mencari tempat bersembunyi hanya untuk mencari lokananta. Berpeluh sebagai tawanan yang bertangkup dalam tembok tahanan.
Dalam keheningan kilau terburai dalam lindap di area klandestin. Kontemplasi meruntuhkan dalam dekapan litani. Memang lengkara sebuah karla yang kalis yang menjadi kidung rupawan
 |
| *pixabay.com |
Dalam mendamaikan kegalauan hanya di dapat dalam sukma. Hanya dalam memandang harsa adalah bagaimana meletakan agarva dalam setiap lini. Meskipun senja di ujung harapan, meskipun untuk menemukan nayata membutuhkan ruang kontemplasi, namun menjelajahi mesin waktu adalah kontemplasi dalam menghilirasikan sebuah arah menuju sebuah titik terang melabuhkan arah nahkoda.
Menembus ruang misteri adalah kepuasan dalam menjalani biduk untuk mengetahui maksud dalam dinamika bahagia. Akankah arsa adalah sebuah pencapain candrakumara??
Menilik jejak caraka berkelana, sapuan dewananda mampu menyatukan sebuah eforia laksamana. Bahwasanya rumput liar tidak harus di tampikkan, namun sebuah diraya menghadirkan gaungan darpa yang riuh bersorak menyambut gegap gempita bahwa donahue adalah ekawira yang ditunggu sebagai pemutus mata rantai.
 |
| Pixel.com |
Kontemplasi merunutkan kebimbangan yang hinggap tak menentu arah yang akan bersemayam. Memantaskan diri dalam menangkup dewananda .
Bahwasanya memanusiakan manusia dalam penghargaan diri merupakan rangkaian kedigdayaan dalam menghargai ruang dan waktu adalah harta yang bernilai tinggi. Sumber dari segala kunci kehidupan adalah bagaimana kita mampu untuk bersikap mawas diri dalam merenungi kontempelasi setiap aspek dalam hidup. Potret dan kisi dari melukis setiap insan jiwa adalah berbeda. Namun benang merah adalah daya tangkup dalam merengkuh manifestasi nilai adalah sebuah refleksi kata hati.
Dari jiwa yang sudah berdamai dengan apa yang sudah tertangkup dan menerima dengan senyum sumringah, air mata berganti dengan mata yang berbinar-binar. Peluh penderitaan beralih menjadi Renjana. Mari menebari benih bahwasanya kamu tidak sendiri dan nikmatilah dari setiap tempaan serta proses. Karena memetik adalah anugerah yang paling berharga. Mereflesikan eunoia adalah senjata dalam membentengi tempaan. Kunci dari seluruh kemenangan ialah memeluknya erat hingga menuju nirwana abadi. Dalam membersamai sebuah proses dan menautkan prakarsa, pengingat kecil adalah suatu acuan mercu suar yang menjadikan sinyalemen bahwa daya upaya tidaklah akan sia-sia belaka. Pada hakikatnya Arsitek Semesta mencatat perjalanan kebajikan dan eunoia merupakan hamparan ganjaran yang akan tertulis di singgasanaNya.
Selamat datang 2026 tulisan ini menunggu selesai hingga 2 tahun lamanya. Terimakasih untuk pembaca setia saya doa terbaik dari saya untuk kalian.
Banyak istilah dan prosa kata baru yang sangat menakjubkan dan menambah wawasan baru, terima kasih penulis atas inspirasinya
ReplyDeleteManusia akan mengumpulkan amunisi terbaik utk berjaga2, tp untuk hasil hanya bisa pasrah dgn ketentuanNya, tp ga akan hilang segala ikhtiarnya ttp tercatat sbg amal...
ReplyDeleteBagus
ReplyDeleteTulisan ini cukup reflektif. Penulis berhasil menyampaikan bahwa paradigma bersifat sangat subjektif; apa yang benar bagi satu orang belum tentu benar bagi orang lain karena perbedaan latar belakang dan pola pikir.
ReplyDeleteKalimat2 indah penuh makna, walau butuh effort untuk memahami maknanya. Kata2nya ngga biasa untuk khalayak awam tapi maknanya bener2 menyentuh kalbu. Barakallahufiik
ReplyDeleteAmazing.... πππ
ReplyDeletekeren kak, Tulisan ini menghadirkan perenungan yang dalam dengan kekuatan utama pada diksi yang kaya, simbolik, dan puitis, sehingga paradigma kehidupan yang ingin disampaikan terasa reflektif dan sarat nuansa filosofis. Metafora-metafora yang digunakan tentang perjalanan, sudut pandang, kontemplasi, dan relasi manusia dengan dirinya serta Sang Khalik menciptakan atmosfer batin yang kuat dan konsisten dari awal hingga akhir.
ReplyDeleteKerenπ
ReplyDeleteGoodπ
ReplyDeleteKata yg indahπππ
ReplyDeleteMasyaAllah.. sungguh tulisan yang mengajak merenung lebih dalam. Jika boleh saran/memberi masukan, mungkin bisa diolah lagi untuk diksi/pilihan katanya agar lebih lebih mudah dipahami pembaca awam.
ReplyDeleteTulisan yang indah dan keren ππ
ReplyDeleteSangat indah dan memukau pembaca. Penuh dengan diksi yang memukau, menggambarkan betapa indahnya karya ini
ReplyDeletePenggunaan kata²nya tidak biasa tapi itu jadi daya tarik untuk membaca
ReplyDeleteMasya Allah.. Indah kata katanya penuh makna π€
ReplyDeleteTulisan ini dengan apik menggambarkan bahwa hidup adalah soal "kacamata" atau paradigma yang kita gunakan.
ReplyDeleteKaya akan diksi2 yang saya jarang sekali mendengarnya. Terima kasih telah berbagi hasil kontemplasi selama 2 tahun ini
MasyaAllah alur cerita yang apik...enak untuk dibaca..selamat y atas pencapaiannya dalam membuat karya bacaanπ₯°π
ReplyDeleteDiksi puitis yang melebur pada setiap aksara.
ReplyDelete